Detil Artikel

Belajar Makna Losses dari Kacamata Seorang Petani

Ning Puji Lestari

11 bulan yang lalu

Belajar Makna Losses dari Kacamata Seorang Petani

Losses atau rugi-rugi adalah sebuah kata yang akrab di telinga seorang engineer. Dalam produksi maupun distribusi sesuatu baik itu yang berwujud benda padat, fluida, maupun yang tak nampak mata seperti aliran listrik sudah merupakan kepastian akan terdapat sebuah losses. Menghitung besarnya losses, merekayasa desain sedemikian sehingga nilai losses-nya sekecil mungkin adalah salah satu ketrampilan yang seyogyanya dimiliki oleh seorang sarjana teknik. Dalam beberapa mata kuliah tentunya telah diajarkan tentang losses dan cara menanganinya, anehnya makna sebuah losses justru saya terima dari seorang petani yang hanya lulusan SD.

Sebagai anak petani salah satu aktivitas masa kecil saya adalah bantu orang tua di sawah. Jika teman-teman sebayaku menghabiskan hari minggunya untuk nonton kartun kesayangan, jadwal nonton kartunku hanya sejak bangun tidur dipotong jam belajar masak sampai pukul 9 pagi. Kesal. Iya, dulu sangat kukesali waktu itu. Ketika tepat pukul 9, kartun masih bagus-bagusnya dan saya harus ikut Ibu mengantar makanan ke sawah. Membantu membawakan minuman atau sayur atau alat makan. Selain untuk meringankan beban tentunya juga agar seharian di hari minggu itu aku tidak di rumah sendirian.
Perjalanan berkilo meter dengan kaki melalui jalan mendaki dengan membawa beban itu menjadi perjalanan termenyebalkan yang entah brapa meter juga bibirku manyun sepanjang jalan setiap seminggu sekali. Tidak sepenuhnya menyebalkan sebetulnya, jika beruntung di jalan aku akan dapat bonus ucen (strawberry liar), lalu selepas para pekerja selesai makan aku boleh makan sisanya, sebuah sajian yang tentunya terasa sangat nikmat karena suasananya. Belum lagi traktiran degan (kelapa muda) fresh langsung dari pohon dengan sendok dari kulit kelapa, pemandangan sawah yang indah, boleh main di sungai, main di sawah.

Sesekali saat masa panen padi tiba, tugasku bertambah untuk mengawasi jalannya panen. Di kampungku sistem panen berbeda dengan pekerjaan rutin lainnya. Jika untuk proses lainnya satu bagian sawah dikerjakan keroyokan oleh semua pekerja sampai selesai baru berpindah lokasi. Dan misal mencangkul hanya pekerja laki-laki, menyiangi rumput hanya pekerja perempuan. Saat panen seluruh lahan akan dibagi menjadi beberapa bagian dan perbagian akan dikerjakan satu keluarga. 

Jadi Bapak, Ibu, dan aku masing-masing akan mendapat bagian untuk diawasi proses jalannya panen. Aku yang masih “piyik” itu tentunya juga tidak tahu bagaimana panen yang benar dan jikapun ada yang salah tidak bisa membetulkan, maka tugasku adalah melihat dan melaporkan apa yang aku lihat ke Bapak. Keberadaan salah satu anggota keluarga kami sebetulnya hanya untuk basa-basi agar jika ada yang mau berbuat curang ada rasa tidak enak. Jadi memang momen panen ini kadang kala jadi kesempatan untuk berbuat curang.

Jadi di satu bagian sawah yang dipanen, ada 3 golongan : keluarga yang panen, keluarga pekerja yang bertugas untuk panen, dan orang-orang kurang mampu yang berada di lokasi untuk mengais sisa-sisa bulir padi yang terlewat, jatuh, atau masih tersisa di jerami. Biasanya pihak ketiga ini cukup dekat kekerabatannya dengan pihak kedua sehingga bisa ada kerjasama/kong kalikong untuk memperbanyak perolehan gabah dari orang-orang di golongan ke 3. Nah, keberadaanku di sawah di hari panen hanya untuk membuat setidaknya kesempatan untuk berbuat curangnya berkurang. Ketika menemukan praktek semacam itu aku tidak boleh menegur langsung, biasanya sesampainya di rumah baru aku cerita ke Bapak tadi gimana-gimana, "kok dia begini dia begitu", dan herannya bukannya protes atau menegur yang curang, Bapak biasa aja bersikap ke mereka dan tetap bermurah hati kepada mereka semua. Udah curang masih digaji dan dapat bonus, mestinya ga usah pakai tambah bonus, mestinya gajinya dipotong aja, begitu pemikiranku waktu itu. Kesal bin heran kok Bapak terlalu baik sih, dicurangi diam aja. Dan malah justru aku yang menunjukan kekesalan dan ekspresi ketidaksukaanku pada yang curang yang dapat teguran, ”Jangan takut ada yang ambil rezeki kita“, “Memaafkan, menjaga hubungan baik dengan orang itu lebih penting“, “Utamakan tangan di atas“, “Kita ga dirugikan apa-apa“, dan nasihat serupa yang intinya kalo ada yang curang/jahat ke kita cukup tahu aja, jangan ditiru, jangan mempengaruhi sikap kita untuk berbuat baik pada mereka, dan tak perlu risau atau khawatir rezeki kita diambil tak perlu menghakimi, ada Tuhan. 

Beberapa tahun lalu setelah kepergian alm. Bapak, dalam perjalanan Wonosobo – Jogja, kuisi  waktu dengan mendengar cerita. Hal yang sangat kunikmati, mendengar tentang masa dulu, tentang kakek nenek kami yang Saya tak sempat bertemu, masa lalu orang tua kami, dan masa kecil keempat kakakku yang tentu saja Saya tidak tahu, belum lahir, pun sudah lahir masih belum paham. Cerita ngalor ngidul, dan sampailah pada cerita,
Dulu setiap kali panen padi, kita disuruh membantu ke sawah. Bukan untuk panen tapi cuma untuk mengawasi pekerja. Pas zaman kamu mungkin sudah enggak lagi.” Aku cuma senyum bukan mengiyakan pernyataannya tentang aku sudah tidak lagi mengalami itu, tapi ingatanku pun kembali ke masa-masa itu.

Zaman dulu kalo panen, hasilnya masih dibawa pulang. Ga kaya sekarang yang langsung dibawa ke tempat penggilingan yang terdekat. Kebayang kan jauhnya _ sekitar 15 – 30 menit perjalanan_ ? Yang sering terjadi dulu ada keluarga yang di sawah dapat sekian karung tapi yang sampai di rumah kita jumlahnya tidak sama, ada yang dibelokkan ke rumah masing-masing atau disembunyikan dulu di tempat lain” lanjut kakakku. Akupun kembali mengingat masa lalu, memang belum pernah ku jumpai kecurangan yang sebanyak itu, meskipun tetap ada kecurangan seperti sengaja tidak bersih saat memisahkan butiran padi, menjatuhkan padi kebagian para pencari sisa padi, dan kecurangan-kecurangan kecil lainnya.
Aku pernah lapor Simbok _ panggilan kami untuk Nenek dari Bapak_ tentang kejadian jumlah karung yang kurang itu. Lalu kata beliau ‘Sudah gapapa, sebanyak-banyaknya mereka mengambil dari kita masih lebih banyak yang tetap menjadi milik kita.’”
Paham ga maksudnya?”, lanjut Masku. Lagi-lagi kujawab anggukan aja.
Ngerti ga?” kelihatannya Kakakku meragukan aku benar-benar paham atau lebih tepatnya dia ingin aku memahami lebih dalam lagi. “Kamu tahu losses? Anak teknik mestinya tahu losses.
Hah? losses… rugi-rugi? Iya, tahu.” jawabku sedikit menerka-nerka losses mana yang dimaksud.
Yang gimana?” lanjut kakakku masih mengujiku.
Kerugian, misalnya kita mendesain sebuah instalasi air untuk memindahkan air dari tempat A ke tempat B. Jika air yang kita masukkan di A 1000 liter, air yang akan sampai di B ga mungkin masih 1000 liter juga, pasti kurang karena ada losses itu… bisa karena ada pipa yang bocor, air yang nyisa di belokan-belokan pipa, air yang masih nempel di dinding pipa, dan lain-lain” jawabku merasa diragukan beneran datang ke kelas waktu kuliah. 

Okay, trus sebagai engineer apa yang dilakukan dengan kondisi tersebut?
Memilih sistem yang tepat, yang lossesnya kecil atau memperbaiki sistem instalasinya biar lossesnya bisa sekecil mungkin.
Iya, itu pasti. Bukan itu maksudku.
Hah? oh… menyesuaikan inputannya. Jadi kan kita pasti tahu kebutuhan di B, jumlah lossesnya bisa dihitung juga, dengan tahu keduanya kita bisa tahu brapa seharusnya inputan di A agar setelah dikurangi losses, requirement di B tetap terpenuhi.
Okay, itu kalo engineernya manusia. Kalo Tuhan?

Bengong. Kembali mengingat cerita tentang jawaban Simbok ke kakakku, kembali mengingat jawaban Bapak zaman dulu. “Sebanyak-banyaknya yang mereka ambil, tetap lebih banyak milik kita.“, “Bagaimanapun cara mereka mencurangi kita, tidak akan mengurangi rizki kita, sedikitpun.“.
Allah Sang Maha Engineer pastilah tahu apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Allah Sang Maha Engineer pastilah paling sempurna soal hitungan segala sesuatu. Ia tahu kebutuhan di outputnya_rezeki kami_, ia tahu losses yang akan terjadi dalam masa rezeki kami sampai kepada kami, maka Sang Maha Engineer pastilah sudah menyesuaikan inputannya. Yang gagal tumbuh, yang terjatuh, yang diambil orang, yang termakan hama, yang termakan burung, itu semua memang bukan rezeki kami, itu semua adalah losses yang besar/jumlahnya dan cara menyusutnya telah Allah perhitungkan dengan sempurna, dengan sebaik-baik perhitungan.

Rupanya untuk mengerti nasehat Bapak waktu itu butuh waktu bertahun-tahun, butuh belajar hingga bangku kuliah, butuh 3 generasi untuk mengajariku. Sebuah nasehat yang menyuruh kita kembali mengingat ayatNya, “ dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu (At Talaq : 3).

Betapa sering kita mengeluh tentang kondisi keuangan, sedih karena kehilangan harta, menyesal karena beli kemahalen, khawatir dengan rezeki untuk esok yang sesungguhnya semua itu sungguh tidak perlu. Allah Sang Maha Engineer telah mendesain yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Ya betul, gaji kita bukan rezeki kita, tabungan di rekening kita bisa jadi bukan rezeki kita. Bahkan makanan di piring kita pun bisa jadi bukan rezeki kita. Rezeki kita adalah apa-apa yang telah kita makan dan jadi energi untuk kita, rezeki kita adalah rumah, pakaian, atau benda yang kita pakai hingga usang, dan harta yang kita amalkan dalam kebaikan yang akan kita bawa sampai mati. Itulah rezeki kita dan itu sudah masuk ke perhitungan Tuhan, sudah didesain, tak perlu kita risaukan. 

Rupanya benar bahwa setiap orang adalah guru, alam raya sekolah kita. Apapun gelarnya pasti ada yang bisa kita pelajari darinya.
Semoga bermanfaat.

~Berdasarkan kisah nyata penulis, Ning Puji Lestari, pengajar di Teknik Pertanian, Universitas Jember