Detil Artikel

KKN58 UNEJ: Pendampingan dan Penerapan Teknologi Budikdamber Dalam Skala Rumah Tangga

Mahasiswi KKN58: Memberdayakan Ember Bekas Dan Ruang Kosong

Untuk Teknologi Budikdamber Di Desa, Ambulu-Jember

            Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah kepadatan penduduk terbesar ke-2 setelah Jawa Barat. Jumlah kepadatan penduduk di Jawa Timur mencapai jumlah 39 juta jiwa, dan diantaranya berada di Kabupaten Jember. Kabupaten Jember per tahun 2011 kepadatan penduduknya mencapai 2.345.851 jiwa. Secara administratif, Kabupaten Jember memiliki 31 Kecamatan, 226 Desa, 22 Kelurahan, 959 desa, 4.100 RW, dan 13.786 RT. Salah satu Kecamatan paling ujung (Selatan) dari Kabupaten Jember, adalah Kecamatan Ambulu. Kecamatan Ambulu secara geografis, termasuk wilayah dataran rendah yang terbagi dalam 7 desa yaitu, Desa: Sumberejo, Andongsari, Sabrang, Ambulu, Pontang, Karang Anyar, dan Tegalsari. Total luas lahan di Kec. Ambulu mencapai 10.439 Ha, dan Luas lahan terbawah ke-2 adalah di Desa Ambulu yaitu seluas 504 Ha. Batas wilayah Kecamatan Ambulu, terbagi menjadi 4 wilayah, yaitu Kec. Jenggawah (Batas Utara), Samudera Indonesia (Batas Selatan), Kec. Wuluhan (Batas Barat), dan Kec. Tempurejo (Batas Timur). Kec Ambulu memiliki kepadatan penduduk sebesar 99.757 jiwa dengan tingkat pendidikan tertinggi yaitu tingkat, tamatan Sekolah Dasar (SD). Sedangkan, urutan profesi yang paling mendominasi adalah Profesi Petani, Wiraswasta, dan Buruh Tani.

Sejak masa pandemi virus COVID19 ditemukan reaktif di Kabupaten Jember tepatnya pada Rabu, 11 Maret 2020. Kab. Jember mulai menerapkan penanganan dan pencegahan secara siaga agar virus tersebut tidak menyebar. Penerapan Sosial Distancing (jaga jarak), tidak berpergian, penerapan pola hidup yang lebih sehat, dan isolasi mandiri #StayAtHome. Keterbatasan aktivitas, dan banyak ditutupnya pasar tradisional maupun modern menjadi salah dampak besar yang paling dirasakan masyarakat. Para petani tidak dapat bercocok tanam di sawah terbuka hijau, penyedia bahan pangan pokok (Pasar/Toko) juga ditutup mengharuskan masyrakat memutar otak dan memberdayakn sumber daya yang ada dalam rumah untuk menghasilkan bahan pangan skala rumah tangga.

Berdasarkan permasalahan pangan dalam pandemi COVID19 tersebut juga sempat dibahas oleh kementerian Pertanian Republik Indonesia. Kementan RI tersebut berusaha menyiapkan solusi berupa skema penanggulangan krisis pangan berskala global. Berdasarkan data Indeks Ketahanan Pangan (IKP) dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, ada sekitar 19% dari 416 Kabupaten di Indonesia yang memiliki nilai IKP cukup rendah. Hal tersebut terjadi, karena rasio atau ketidakseimbangan antara jumlah produksi bahan pangan dengan jumlah konsumsinya. Faktor utama yang mendasari ketahanan pangan Indonesia yang masih belum stabil salah satunya karena, ketergantungan penyediaan beberapa komoditi bahan pangan dari satu wilayah yang menjadi sentra produksi. Meskipun, permasalahn krisis pangan bukanlah permasalahn baru di Indonesia, namun telah ada sejak masa kolonial Hindia Belanda, dan Negara Indonesia terdapat pada posisi indeks luas panen per kapita terkecil, yaitu 531 m2/kapita.

Melalui program KKN tematik yang saya pilih (Teknologi/Informasi penganganan COVID19), Saya pribadi berusaha memberdayakan SDM (tetangga) di lingkungan sekitar saya, selama periode KKN (1 Juli s/d 14 Agustus 2020). Pendampingan yang akan saya lakukan berupa edukasi K3 dan dokumentasi tertulis. Ketahanan pangan di Kab.Jember sempat menjadi permasalahan yang cukup krisis, Berdasarkan pernyataan Bupati Jember, Ibu Faida juga menyebutkan terdapat beberapa komoditas dalam hitungan yang devisit atau kurang seperti tanaman hortikultura. Kemandirian pangan, dapat dilakukan bersama keluarga dalam rumah, dengan memanfaatkan peralatan yang sudah tidak terpakai (bekas), ruang kosong dalam rumah, dan proses perawatan yang mudah. Solusi yang dapat dilakukan bersama keluarga di rumah, dengan cara teknologi budidaya ikan dalam ember (Budikdamber) yang dikombinasikan dengan budidaya tanaman. Teknologi Budikdamber tersebut, akan dilakukan di Desa Ambulu, Jember yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup besar, namun dengan luas lahan terendah ke-2 di Kec. Ambulu. Budikdamber bisa menjadi alternatif selain ketahanan pangan atau kemandirian pangan, juga menjadi solusi bagi keluarga agar masih tetap produktif dan aktif dengan memanfaatkan keterbatasan lahan dan ember atau wadah yang sebelumnya belum termanfaatkan. (Nurul Fadillah/KKN58 UNEJ/Ir. Gatot Subroto. MP).