Detil Artikel

Maggot dan Paving Block: Produk Unggulan sebagai Solusi Peningkatan Ekonomi

UIN SMH Banten

1 tahun yang lalu

  1. ARTICLE_ATTACHMEMT1596000676

Maggot dan Paving Block: Produk Unggulan sebagai Solusi Peningkatan Ekonomi

Oleh Alif Abdul Jabbar, Siti Nurhayati, dan Alsri Nurcahya (Mahasiswa Pendamping)

Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M

UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

 

Pendahuluan

Pembahasan serius untuk meningkatkan kualitas taraf hidup masyarakat Indonesia, dapat diorientasikan ke dalam tiga sektor penting yang mesti diimplementasikan secara masif dan berkesinambungan. Terlebih dalam mengahadapi era Revolusi Industri 4.0 yang terus memberikan peluang, sekaligus tantangan yang tidak terpisahkan. Ketiga sektor tersebut meliputi sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Optimalisasi pengelolaan sampah padat, yang berkaitan dengan sektor sosial dan lingkungan hingga berdampak pada sektor ekonomi, saat ini masih menjadi permasalahan yang krusial, baik dalam ruang lingkup (skala) daerah, nasional, maupun internasional. Dalam skala daerah dan nasional, berbagai aspek permasalahan yang muncul di antaranya mencakup besarnya bangkitan sampah, tercampurnya sampah padat organik dan anorganik, serta sampah yang tergolong dalam bahan berbahaya atau beracun (B3). Dimulai dari masalah lokasi penanganan sementara (TPS) hingga penanganan akhir (TPA). Berbagai masalah tersebut bersumber dari tindakan awal yang tidak memenuhi kaidah ilmu teknik lingkungan (sanitasi lingkungan). Ilmu teknik lingkungan merupakan pemilahan sampah padat dimulai dari awal tempat sampah itu berasal. Pemilahan atau pemisahan (segregasi) merupakan langkah mendasar yang akan memengaruhi kinerja pemerintah atau otoritas lainnya dalam pengelolaan sampah padat, khususnya di daerah perkotaan maupun pedesaan.

Mengapa pemilahan disebut sebagai langkah dasar? Jawabannya tak lain, karena pemilahan membawa implikasi lanjutan yang sangat signifikan bagi langkah-langkah penanganan atau pengolahan sampah. Sampah padat pedesaan hanya dapat dipilah menjadi dua (2) bagian, yaitu (fraksi) organik dan bagian (fraksi) anorganik. Teknologi pengolahan sampah padat pedesaan saat ini telah tersedia, baik yang menggunakan pendekatan fisika, kimia, biologis atau gabungan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, di Desa Lebak Parahiang, Kecamatan Leuwidamar, sampah organik maupun anorganik masih menjadi permaslahan yang belum teratasi. Berawal dari masalah lokasi pembuangan sampah yang tidak memadai, tempat penampungan yang tidak beraturan, kebiasaan membuang sampah sembarangan, ketidaksadaran dalam pemeliharaan sanitasi lingkungan, hingga ketidakpahaman terhadap pengelolaan sampah secara terpadu. Hal ini menjadi masalah yang serius, sehingga perlu adanya terobosan baru yang dapat memecahkan masalah tersebut.

 

Pembahasan

Lebak Parahiang adalah desa yang berada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sampai tahun 1843, Lebak Parahiang sebagai ibukota kabupaten, namun akhirnya dipindahkan ke Warung Gunung. Desa Lebak Parahiang merupakan desa pemekaran, yang luas wilayahnya kurang lebih 900 Hektar, yang terdiri dari 16 RT dan 4 RW. Kawasan pedesaan ini dikelilingi atau perbatasan di antara Desa Wantisari dan Desa Leuwidamar.

Di Desa Lebak Parahiang, sampah organik maupun anorganik, menjadi masalah yang serius, terutama limbah rumah tangga yang menjadi masalah utama. Limbah organik, sisa-sisa sayuran maupun buah-buahan yang sudah tidak segar kerap kali dibuang dan tidak dimanfaatkan lagi. Begitupun limbah anorganik yang sulit diurai, bahkan dibuang begitu saja.

Berdasarkan hasil riset dan studi literatur yang dilakukan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat, kami menemukan bahwa permasalahan kompleks yang terjadi di masyarakat Desa Lebak Parahiang dapat diatasi dengan baik, dengan cara dicarikan solusi yang tepat dan memberikan pemahaman secara bertahap. Mediasi secara step by step, sustainable dan komprehensif, dapat memberikan pemahaman dan kesadaran mengenai pentingnya peran masyarakat dalam mengatasi permasalahan limbah tersebut. Sehingga, secara tidak langsung akan memberikan impact yang luar biasa terhadap kearifan dan kelestarian lingkungan, serta dapat berpengaruh terhadap sektor ekonomi.

Berawal dari inisiasi PPM LP2M UIN SMH Banten yang mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam acara Focused Group Discussion dengan tema “Pengelolaan Daur Ulang Sampah sebagai Pembuatan Paving Block dan Maggot” di Desa Lebak Parahiang. Dalam acara tersebut LP2M, dilakukan bersama dengan mahasiswa dalam pelatihan budidaya maggot, dan memberikan bantuan berupa modal awal untuk pembuatan paving block dan budidaya maggot, yang memanfaatkan sampah organik dan anorganik. Tindakan tersebut bertujuan untuk menjadikan masyarakat mandiri, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, serta menjadikan masyarakat lebih produktif.

Tindak lanjut dari pengabdian tersebut, PPM LP2M dan mahasiswa melakukan pendampingan secara rutin, agar budidaya maggot dan pembuatan paving block berjalan dengan baik dan berkembang. Sehingga, dalam mengatasi dan mengurangi permasalahan sampah organik dan anorganik di pasar dan rumah tangga, serta menggerakkan dan memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan daur ulang sampah, dapat terlaksana dengan masif.  Sampah organik dan anorganik diolah menjadi produk berkualitas dan bernilai ekonomis, yakni menjadi makanan maggot atau Black Soldier Fly (BSF) sebagai pengurai sampah organik dalam proses budidaya maggot, dan bahan baku pembuatan paving block terbukti membawa dampak positif terhadap sektor sosial, lingkungan, dan ekonomi.

PPM LP2M UIN SMH Banten yang dibantu oleh beberapa mahasiswa, bekerjasama dengan pejabat pemerintahan desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat setempat, untuk menerapkan solusi yang ditawarkan dalam mengatasi permasalahan sampah, yaitu budidaya maggot (BSF) sebagai solusi sampah organik, dan pembuatan paving block sebagai solusi sampah anorganik, menjadi produk unggulan yang ditetapkan di Desa Lebak Parahiang.

Maggot dikenal sebagai organisme pembusuk, karena kebiasaannya mengkonsumsi bahan-bahan organik. Diawali dengan telur yang dihasilkan oleh black soldier fly, kemudian telur menetas menjadi maggot. Maggot berkembang menjadi pupa, dan akhirnya pupa menjadi black soldier fly dewasa (Dengah et al., 2016).

Description: G:\UIN\Pressentasi\siklus maggot\siklus umumPNG.png

 
  Description: G:\UIN\Pressentasi\siklus maggot\siklus umumPNG.png

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Siklus hidup dari black soldier fly

 

Pengolahan sampah dengan sistem reduce melalui maggot merupakan salah satu solusi yang efektif untuk diterapkan di dalam lingkungan masyarakat. Dibandingkan dengan mikroorganisme lain, proses penguraian sampah organik melalui maggot lebih cepat dan tidak merusak sistem lingkungan, sehingga ramah untuk diterapkan. Mikroorganisme lain membutuhkan waktu 3-4 minggu dalam menguraikan sampah, sedangkan maggot hanya membutuhkan waktu 9 hari untuk mengolah sampah menjadi pupuk kompos yang bagus digunakan bercocok tanam. Gerakan yang berawal dari kesadaran masyarakat (bottom up) ini membuat kami yakin, jika diimplementasikan secara masif dan komprehensif mampu menjawab tantangan sampah yang ada. Karena, penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa sampah yang telah melalui proses penguraian bakteri atau jamur akan lebih mudah dikonsumsi oleh maggot, dan maggot dapat digunakan sebagai pakan ternak (ikan dan unggas).

Sedangkan, pembuatan paving block dari pegolahan sampah plastik yang dikelola oleh masyarakat secara mudah, karena dibuat secara manual dengan menggunakan alat seadanya. Pembuatan paving block ini menggunakan semua jenis sampah plastik, seperti kantong kresek, botol bekas, peralatan rumah tangga berbahan plastik yang sudah tidak digunakan, dan lain sebagainya.

Dengan melibatkan seluruh masyarakat di Desa Lebak Parahiang sebagai eksekutor dan PPM LP2M sebagai fasilitator, serta mahasiswa sebagai penggerak dan pendamping, paving block dapat diproduksi dalam satu tempat yang melibatkan 4-6 orang sebagai pembuat, dan 4 RW dalam 16 RT yang dilibatkan dalam pengumpulan sampah. Sedangkan, budidaya maggot melibatkan 4 kelompok dalam 4 RW. Oleh karenanya, pemanfaatan sampah organik dan anorganik berjalan dengan baik, sehingga dapat dikelola menjadi produk unggulan desa. Pengelolaan sampah tersebut sebagai upaya untuk mewujudkan masyarakat yang produktif, dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, karena maggot dan paving block dapat diperjualbelikan.

 

Kesimpulan

 

Pada penelitian di bidang pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa jenis sampah organik (sisa makanan, sayuran dan sisa tumbuhan) dan anorganik (kantong kresek, botol bekas, peralatan rumah tangga berbahan plastik yang sudah tidak digunakan, dll.) yang paling dominan dihasilkan oleh masyarakat Desa Lebak Parahiang, dapat dimanfaatkan kembali, didaur ulang menjadi produk unggulan desa. Bahkan, bernilai ekonomis dan dapat menciptakan lingkungan bersih dan rapih. Dengan demikian, bisa mengurangi limbah organik dan anorganik di Indonesia, khususnya di Desa Lebak Parahiang.

Percobaan diawali dengan pemilahan limbah organik dan anorganik, hingga terciptanya solusi yang dapat mengatasi permasalahan sampah tersebut melalui budidaya maggot dan pembuatan paving block, serta untuk mewujudkan masyarakat yang produktif dan mandiri dengan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa tersebut.  

 

Daftar Pustaka

Andrian R. Nugraha, 2009. Menyelamatkan Lingkungan Hidup dengan Pengolahan Sampah. Bekasi: PT Cahaya Pustaka Raga.

Hadiwijoto. S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Penerbit Yayasan Idayu. Jakarta: Biro Bina Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.

Kajian Pustaka, 2015. “Pengertian, Jenis dan Dampak Sampah”, dalam http://www.kajianpustaka.com/2015/02/pengertian-jenis-dan-dampak-sampah.html, diunduh pada September 2016.

Yovita Diana Belinda Joedianto, dalam https://repository.usd.ac.id/22229/2/132214160_full.pdf.

It’s Not Journalism, 2011. “Tingkat Kesadaran Masyarakat Menurut Paulo Freire,” dalam https://taufiqchips.wordpress.com/2011/05/13/tingkat-kesadaran-masyarakat-menurut-paulo-freire/, diunduh pada tanggal 10 September 2016.

Yuwono, Arief Sabdo & Priscilia Dana Mentari, 2018. Penggunaan Maggot (Maggot) Black Soldier Fly (BSF) dalam Pengolahan Limbah Organik. Bogor: SEAMEO BIOTROP Southeast Asian Regional Centre for Tropical.

 

 

Lampiran

 

Focused Group Discussion                             Budidaya Maggot                 Pupuk kompos

Description: Keterangan tidak tersedia.Description: Keterangan tidak tersedia.Description: D:\PENGABDIAN UIN-ASTRA\IMG-20191224-WA0044.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Description: https://scontent.fcgk23-1.fna.fbcdn.net/v/t1.15752-0/p280x280/89251318_589022448493500_1707602013895786496_n.jpg?_nc_cat=106&_nc_sid=b96e70&_nc_ohc=5ur2IaFYEg0AX8n6Yn_&_nc_ht=scontent.fcgk23-1.fna&_nc_tp=6&oh=5099473eabd1691a2d785a2658346267&oe=5E98758BDescription: C:\Users\Acer\Downloads\89271372_220107299390749_2192194132997308416_n.jpgDescription: C:\Users\Acer\Downloads\89349533_1556145191176269_5454079957309325312_n.jpgPengolahan sampah  plastik                            Paving block